tugas filsafat pendidikan : refleksi kitab "ta'limul muta;alim"

BAB I
KEUTAMAAN ILMU DAN FIKIH


Pada dasarnya Islam memang salah satu agama yang mengharuskan umatnya untuk menuntut ilmu tidak hanya bagi laki-laki melainkan diwajibkan pula bagi para muslimah, hal ini merupakan kewajiban yang mutlak karena sebagai salah satu identitas yang membedakan antara manusia dan binatang. Ilmu merupakan komponen penting dalam pembangunan iman seseorang, karena dengan jalan itulah manusia akan bisa menemukan kebenaran dari agamanya,
Mengenai hubungannya dengan ilmu fikih, sudah barang tentu itu menjadi suatu hal yang tidak bisa digantikan lagi posisinya, bagaimana tidak, Fikih merupakan salah satu pondasi yang dibutuhkan manusia sebagai salah satu kompas dalam mengarungi kehidupan. Kita haruslah mengetahui perkara halal dan haram, perkara boleh dan tidak boleh, serta perkara-perkara yang berhubungan dengan unsure ibadah kita dengan Sang Maha Khaliq. Maka karena itu haruslah manusia mengetahui dan mempelajari ilmu fikih.
Ada beberapa perkara yang belum bisa saya cerna dalam kajian bab satu ini, seperti beberapa pendapat Ulama yang disajikan oleh penulis diantaranya pendapat dari Imam Syafi’i bahwasanya “Imu itu hanya ada 2: 1.Ilmu fikih, yaitu untuk mengetahui seluk beluk masalah agama, 2. Ilmu kedokteran, yaitu untuk mengetahui keadaan sehat dan sakit tubuh”. Adapun ilmu-ilmu lain yang selainnya hanya bersifat sebagai pelengkap bekal hidup. Hal ini masih sedikit mengganjal dipikiran saya selaku pembaca yang masih awam, mengenai ilmu fikih saya masih bisa paham dan mengerti tentang kedudukan dan porsinya, tetapi untuk hal ilmu kedokteran masih belum begitu paham terlebih lagi pengarang tidak menjelaskan secara rinci mengenai hal tersebut, saya selaku orang awam merasa bingung dan tidak tahu.
BAB II
NIAT KETIKA AKAN BELAJAR

Dalam bab ke-2 ini saya hampir setuju dengan perkara-perkara yang dijabarkan oleh penulis, seperti keutamaan niat dan kebenaran niat yang harus diusung oleh setiap pelajar ketika menuntut ilmu, kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, karena ilmu itu tidak didapat begitu saja melainkan butuh  perjuangan yang luar biasa untuk mendapatkannya.
Seperti bab sebelumnya ada beberapa perkara yang masih belum bisa saya pahami, terutama mengenai tawaduk dan iffah, pengarang mengatakan bahwa keduanya hampir sama pengetiannya, yaitu perilaku yang tengah tengah antara sombong dan rendah diri” . kemudian apakah perbedaan keduanya.
Kemudian ada satu pertanyaan lagi muncul mengenai pendapat ulama yang disajikan oleh pengarang pada hal ini pendapat Imam Abu Hanifah “Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata kepada teman-temannya: “Jika engkau memakai sorban, buatlah yang besar (longgar).” Maksud dari orang-orang itu jangan sampai keliatan remeh, apalagi sampai diremehkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan dibenak saya meliputi maksud diremehkan disini apa? Dan apa yang harus kita lakukan supaya tidak diremehkan?
Kemudian ungkapan pengarang bahwa “Barang siapa mendapatkan kitab wasiat karangan Imam Abu Hanifah yang ditulis untuk Yusuf bin Khalid As-Simty, akan berhasil” apakah pengertian berhasil disini? Dan kenapa demikian?




BAB III
MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN

Memilih yang terbaik bagi diri kita merupakan hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, termasuk dalam memilih ilmu, guru, dan teman. Semuanya itu ikut andil dalam pembentukan jati diri kita.
Ilmu merupakan harta yang tak ternilai harganya, bahkan jika dibandingkan dengan harta dan kedudukan, keutamaan ilmu jauh melampaui semuanya, kendati demikian kita harus selektif dalam memilih ilmu. Seperti yang dikemukakan pengarang kitab bahwa kita harus mengutamakan ilmu-ilmu kuno(yang sudah ada di zaman dahulu atau masa Rasul) seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Saya pun merasa setuju dangan hal tersebut tetapi di zaman sekarang ini, pengetahuan-pengetahuan baru pun perlu kita ketahui menilik perkembangan zaman yang tumbuh begitu cepat. Kendati demikian kita mempunyai tugas yang teramat sangat berat dalam menyeimbangkan kadar pengetahuan agama dan umum. Karena begitu banyaknya manusia terkungkung dalam pengetahuan umum sehingga akhlak mereka seolah tidak berdaya menahan laju perkembangan zan, pun demikian sebagian lagi lebih focus dalam kajian agama sehingga mereka bisa saja dipermainkan oleh zaman yang semakin kacau.
Memilih guru mungkin sangat penting bagi kita, bagaimanapun juga guru kita lah yang akan menjadi pembentuk karakter diri kita, tetapi ungkapan untuk tidak berganti-ganti guru kiranya sulit untuk diterapkan di masa kina, pasalnya, begitu banyak lembaga pendidikan yang lebih mengutamakan target kuantitas bukan target kualitas, alhasil tidak peduli mahir atau tidak, asalkan waktu atau masa sudah terpenuhi, semua pelajar dianggap bisa tentang subjek tersebut.
Memilih dalam berteman tidak bisa dipandang sebelah mata, hal itu penting karena begitu dekatnya mereka dengan kita. Dalam hal ini saya setuju dengan pengarang. Kita boleh berteman dengan siapa saja asalkan kita harus selektif dalam berdekat-dekat dengan mereka.

BAB IV
MEMULIAKAN ILMU BESERTA AHLINYA


Pada bab ini dibahas materi yang sangat menarik bagi saya pribadi. Dijelaskan bahwa kita harus memuliakan guru-guru kita dan mengharap ridhonya, agar ilmu yang kita peroleh senantiasa berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Banyak manfaat yang kita peroleh ketika kita menghormati guru-guru kita, tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun juga seorang guru adalah sosok yang sangat berjasa bagi kesuksesan dan kehidupan kita, tak ayal mereka diberi sebutan orang tua ke dua bagi kita, agar kita senantiasa menghormati mereka selayaknya kita menghormati kedua orang tua kita.
Memuliakan guru juga bisa kita lakukan dengan memuliakan ahli mereka ( keluarga dan keturunan), hal ini memang selayaknya dilakukan, tetapi pengarang disini saya pikir secara pribadi, terlalu berlebihan menggambarkan penghormatan terhadap anak seorang alim ulama, saya pikir sebagai korelasi dengan situasi zaman sekarang alangkah lebih baik jika penghormatan tersebut dapat diwujudkan dengan memuliakan mereka saja (bersikap baik).
Beralih kepada memuliakan ilmu, memang perlu memuliakan ilmu bagi para pelajar, untuk hal ini saya setuju seratus persen dengan pendapat pengarang dan contoh-contoh dalam memuliakan ilmu, seperti dalam peletakan, penulisan dan tata caranya.

BAB V
KESUNGGUHAN, KETETAPAN DAN CITA-CITA YANG TINGGI

Subhanallah, sungguh luar biasa kndungan di bab ini, seakan-akan ini adalah sebuah kritik yang ditunjukan kepada saya. Setelah saya membacanya, tidak henti-hentinya saya merenung, begitu banyaknya waktu yang terbuang. Memang untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang luhur, kita harus mengejarnya dengan sengguh-sungguh. Dan orang yang sungguh-sungguh itu selalu dekat dengan Allah SWT, karena mereka menggunakan waktu dengan efisien dan sebaik mungkin. Dan dari hal itu, ternyata betapa mulianya umat islam, mereka telah berhasil dan diarahkan untuk bisa bersungguh-sungguh dan menggunakan waktu, dan di masa modern ini orang-orang barat baru menemukan teori tentang “time management” untuk menuju kesuksesan, betapa indah Islam ini.
Ketetapan dan cita-cita yang luhur juga menjadi salah satu pendorong penting agar kita menjadi sukses, bagaimanapun juga jika kita punya cita-cita yang tinggi akan selalu memotifasi kita agar terus maju dan bekerja keras, dan ini memang benar adanya.
Mengenai tujuan dan ketetapan hati, seperti halnya pesan yang terkandung dalam kitab ini, kita harus punya tujuan yang sangat tinggi dan mulia, dan mendapatkan dunia bukan lah hal yang luar biasa, menilik dunia bisa habis dan rusak. Walaupun di masa sekarang ini banyak manusia berpandangan sebaliknya. Tapi sungguh tujuan menuntut ilmu dengan niat yang lurus merupakan asset yang luar biasa bagi manusia. Kemuliaannya akan terus terjaga bahkan tak terlepas roh yang meninggalkan jasadnya.



BAB VI
PERMULAAN, UKURAN DAN TERTIB DALAM BELAJAR

Seperti bab-bab sebelumnya, saya juga setuju dengan kandungan dari bab ini, tetapi ada beberapa hal di masa kini yang menyimpang dengan hal-hal tersebut seperti, di dalam kitab dijelaskan bahwa kita harus fokus dan mahir pada satu bidang terlebih dahulu dan kemudian jika sudah barulah memulai dengan bidang yang lain, tapi di masa sekarang cenderung sebaliknya, tidak peduli mahir atau tidak ketika kurikulum mengharuskan pindah maka mau tidak mau kita harus berganti bidang, hal ini saya pandang secara pribadi sangat mengganggu, Karena pelajar pada akhirnya merasa tidak mempunyai bidang yang benar-benar mereka kuasai.
Dan ketidaksingkronan selanjutnya adalah mengenai metode diskusi sebagai salah satu metode belajar yang baik, mungkin dengan garis bawah harus dengan niat untuk menyelesaikan suatu masalah. Memang, tidak dipungkiri, diskusi merupakan salah satu metode yang efektif, tidak hanya di zaman dahulu bahkan di zaman sekarang pun masih sangat digandrungi, tetapi berbeda dengan masa lampau, di era modern diskusi seakan kehilangan esensinya, tidak seperti di zaman dahulu di masa sekarang diskusi atau debat lebih menekankan tujuan untuk menjatuhkan orang lain, mencari pembenaran, dan sebagai alat untuk mendongkrak popularitas. Tidak sedikit dari mereka yang berdiskusi hanya sekedar mengemukakan pendapat-pendapat yang dirasa tidak relevan (tidak nyambung) hanya karena ingin dirinya ikut andil dalam pemberian keputusan, disisi yang lain banyak diataranya menggunakan kata-kata yang tidak selayaknya dengan maksud untuk menjatuhkan lawan diskusinya, mungkin inilah yang dimaksud dari hadits nabi bahwa berbantah-bantahan akan mengeraskan hati.
Untuk yang lainnya, saya sangat setuju dan sependapat dengan pengarang, seperti bertahap dalam belajar, tertib dan teratur serta harus senantiasa bersungguh-sungguh dan tidak boleh kendor sedikitpun.
BAB VII
TAWAKAL


Pada bagian ini pengarang mencoba memaparkan tentang sikap yang harus dimiliki oleh setiap pelajar, yaitu tawakal. Jadi bagi setiap pelajar haruslah tertanam pada diri mereka sikap tawakal, sikap dimana membuat diri mereka lebih bersabar dan yakin dalam menuntut ilmu. Karena tidaklah mudah dalam menuntut ilmu, jalan untuk menempuhnya juga teramat sangat berat. Maka oleh karena itu setip pelajar haruslah mempunyai sikap tawakal.
Setiap orang yang sudah memiliki sikap tawakal tersebut akan merasakan betapa lezatnya memperoleh ilmu, karena kita tau keutamaan ilmu ituh jauh diatas keutamaan-keutamaan harta dan tahta.
Disamping itu seorang pelajar haruslah teguh dalam menuntut ilmu, tidaklah harus seorang pelajar memikirkan masalah rizki, karena riaki mereka terjamin oleh Allah SWT.
Secara keseluruhin isi dalam bab ini sangatlah penting sebagai komponen pembentuk generasi-generasi muslim yang handal. Karena bagaimanapun juga, banyak pergeseran nilai yang terjadi di masa sekarang ini. Seperti lumrahnya para pelajar lebih fokus dan tertarik kepada dunia bebas yang berbau materi disbanding memfokuskan diri pada dunia pendidikan mereka.
Maka dari itu saya mempunyai pendapat pribadi bahwa kita memang harus dan penting untuk memiliki sikap tawakal, terlebih lagi bagi seorang pelajar.



BAB VIII
WAKTU MENGHASILKAN ILMU

Diterangkan disini waktu yang utama dalam menghasilkan ilmu, diantaranya pada usia muda. Usia muda merupakan salah satu usia produktif untuk menuntut ilmu, bahkan pepatahpun mengatakan “belajar di waktukecil bagai mengukir diatas batu, belajar di waktu tua bagai mengukir diatas air”. Jadi di sini ditekankan untuk menggunakan masa muda kita dengan sebaik mungkin, salah satunya dengan memperbanyak menuntut ilmu, karena ilmu mutlak diperlukan bagi setiap manusia agar bisa tetap berada di jalur yang benar dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Orang-orang yang akan tersenyum di hari pembalasan kelak adalah orang-orang yang bertaqwa, dan tidaklah diangkap orang bertaqwa melainkan mereka yang berilmu, jadi jelas sekali pentingnya menuntut ilmu di usia muda agar kita senantiasa semangat dalam menjalani hidup.
Kendati telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penting bagi kita untuk menuntut ilmu di usia muda, tapi hal itu bukanlah alasan untuk berhenti menuntut ilmu ketika usia senja menghampiri. Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, baik muskim laki-laki maupun perempuan dan dengan jangka waktu semenjak ia lahir ke dunia hingga mereka berada di liang lahat.
Tidaklah ada batasan dalam menuntut ilmu, semua orang dari kalangan manapun dan usia berapapun berhak dan wajib dalam menuntut ilmu, menilik betapa pentingnya ilmu bagi kita semua. Maka karena itu, selama ruh kita masih berada dalam jasad, wajib hukumnya untuk tetap berjuang mengais kepingan kepingan ilmu, karena bagaimanapun juga itu akan menjado catatan amal kita di akhirat kelak.
Secara keseluruhan saya sangat setuju sekali dalam pemaparan di dalam bab ini. Tidak diragukan lagi, kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat mutlak hukumnya.
BAB IX
BELAS KASIH DAN NASIHAT

Belas kasih mutlak harus dimiliki oleh setiap muslim, termasuk para pelajar. Berbelas kasih dn senantiasa berpikiran positif akan menuntun diri anda ke dalam kehidupan yang tenang.
Saya coba menukil salah satu kalimat yang ada di kitab ini yang bunyinya “ orang yang berilmu hendaknya mempunyai sift belas kasih kalau sedang member nasihat. Janagan sampai mempunyai maksud jahat dan iri hati. Karena sifat iri hati dan dengki adalah sifat yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya”. Dari nukilan kalimat tadi digambarkan bahwa orang berilmu harus mempunyai rasa belas kasih dalam konteks ini tersirat pesan bahwa bagi setiap guru ketika hendak menyampaikan sebuah materi kepada muridnya hendaklah dengan jalan dan cara yang baik, yaitu dengan rasa belas kasih. Karena saya pribadi tidak merasa nyaman ketika di berikan materi dengan cara yang buruk.
Jika ditarik kesimpulan, korelasi kandungan yang terdapat pada bab ini terhadap pendidikan zaman sekarang adalah setiap guru  tidak hanya memikirkan materi atau bahan ajar, melainkan harus memperhatikan faktor psikologis anak didiknya, karena sedikit banyaknya itu akan mempengaruhi perkembangan siswa-siswa mereka.
Dan dibagian yang lain dalam bab ini dijelaskan bahwa jika kita di remehkan atau dioloko-olok oleh orang lain, tidak perlulah kita membalas dengan yang serupa tetapi cukuplah diam. Karena itulah yang membedakan antara orang yang berilmu dan yang tidak. Cukuplah Allah yang akan membalas perlakuan mereka, karena barang tentu hal yang demikian itu dilarang terlebih lagi ketika hal itu ditunjukan bagi orang-orang yang berilmu.

BAB X
MENCARI FAEDAH

Salah satu cirri keberhasilan seorang pelajar adalah ketika ia tekun untuk mencari faedah. Salah satunya dengan senantiasa mencatat segala sesuatu yang dirasa penting dan bermanfaat kedalam sebuah catatan. Dari hal itu sangatlah mirip dengan metode yang sering kita dengr di masa sekarang, dimana kita senantiasa diingatkan oleh guru kita untuk selalu mencatat hal yang penting-penting, karena persis dengan salah satu kalimat dalam kitab ini bahwa “barang siapa yang pernah hafal sesuatu, maka kadang-kadang bisa terjadi lupa. Akan tetapi, jika faedah tersebut dicatat, tentu tetap tidak akan lupa”. Dengan penjelasan tersebut sudahlah tentu mencari faedah juga penting bagi setiap pelajar dalam rangka mengejar cita-citantya.
Kemudian di bagian yang lain dalam bab ini diterangkan agar selalu mengunjungi guru-guru dan sesepuh untuk mencari banyak ilmu dan faedah, jangan sampai kita punya banyak waktu luang tapi tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi para guru, hal itu akan sangat merugikan bagi diri kita, seperti yang pengarang sajikan dalam bab ini tentang kisah salah seorang ulama: “Sebagaimana yang dikatakan guru kami syekhul Islam dalam kitabnya: banyak sekali para sesepuh yang agung ilmunya lagi mulia, sedangkan aku pada saat itu masih ada kesempatan untuk bertemu, tetapi aku belum sempat mengaji dan belajar ilmu dari para sesepuh tersebut sampai meninggal dunia, dan aku merasa sangat menyesal”.
Secara keseluruhan pesan moral yang bisa kita dapat dalam bab ini, bahwa kita harus dapat mencari faedah di semua tempat dan salah satu jalan mendapatkan faedah yang baik adalah dengan mengunjungi para ustad dan sesepuh-sesepuh yang utama ilmu pengetahuannya.


BAB XI
WIRA’I KETIKA MENCARI ILMU

Wira’i adalah sikap untuk menjaga diri dari perkara haram. Jadi setiap pelajar harus senantiasa wira’i dalam mencari ilmu, sehingga ilmunya bermanfaat dan tidak ada kendala yang berarti dalam berjuang mendapatkannya. Di bab ini pun dijelaskan beberapa hal tentang wira’i seperti tidak boleh kekenyangan, terlalu banyak tidur, banyak bicara, memakan makanan pasar, ghibah, menghindari bergaul dengan orang-orang yang salah perilakunya, dan diusahakan untuk menghadap kiblat ketika belajar.
Dari hal-hal yang dijelaskan di atas, saya selaku orang awam dan masih dangkal ilmu pengetahuannya masih merasa bingung tentang beberapa hal dalam bab ini, seperti tidak boleh memakan makanan pasar, walaupun  telah dijelaskan penjabarannya dalam bab ini, tapi saya masih merasa bingung tentang hal tersebut, padahal kebanyakan pelajar yang merantau unuk mencari ilmu baik di Banten maupun luar kota seperti Jakarta dan Jogja, banyak kalangan pelajar yang lebih memilih jajanan pasr karena dirasa lebih murah, apakah itu akan jadi kendala juga, menilik perkembangan zaman yang begitu cepat sehingga hal yang mudah dan efisien lebih banyak menjadi pilihan. Lemudian lagi, walaupun memang pasar memang kotor dan besar kemungkinan makanannya juga terkena najis, tapi orang yang berjualan di pasar juga berikhtiar agar makanannya tetap higenis, dan mereka juga mencari rizki halal.
Untuk hal-hal yang lain saya setuju dan sependapat, bahwasanya benar perlakuan-perlakuan yang telah disebutkan di atas sebaiknya para pelajar bisa mempertimbangkan agar tidak melakukan hal yang sedemikian itu.

BAB XII
SUATU YANG DAPAT MENJADIKAN HAFAL DAN LUPA

Pada bab ini dijelaskan beberapa hal yang bisa membantu pelajar untuk bisa menghafal dan dijelaskan juga beberapa hal yang bisa membuat lupa. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pelajar agar dalam proses belajar menjadi lebih mudah.
Dibagian awal diterangkan beberapa hal yang bisa membantu para pelajar untuk dapat menghafal dengan mudah, seperti bersungguh-sungguh, rajin, tetap, mengurangi makan, mengerjakan shalat malam, dan membaca Al-Qur;an.
Saya sangat setuju dengan pendapat pengarang karena menurut saya segala sesuatu di atas memang dapat meningkatkan daya ingat serta daya hafal pelajar. Tidak ada yang diragukan lagi tentang hal-hal tersebut sehingga saya rasa ini pun patut dicoba dan ditiru oleh semua generasi muslim di seluruh dunia.
Pada bagian yang lain juga disebutkan sebuah topic yang berlawanan dengan topic pertama, yaitu mengenai hal-hal yang menyebabkan cepat lupa, seperti: terlalu memikirkan perkara dunia, makan ketumbar yang masih basah, makan buah apel yang rasanya asam, melihat orang yang disalib, membaca tulisan di batu nisan, berjalan di antara dua unta yang bergandengan dan membuang kutu rambut hidup-hidup ke tanah.
Pada bagian ini saya selaku orang awam masih merasa bingung tentang pemaparan pengarang tentang hal-hal yang disebutkan di atas, dan pengarang pun tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang menyebab kan mudah lupa. Jadi saya selaku orang awam merasa bingung dan tidak mengerti tentang bagian ini.


BAB XIII
SESUATU YANG MEMUDAHKAN DAN MENYEMPITKAN REZEKI; MEMPERPANJANG DAN MENGURANGI UMUR

Pada bab terakhir ini banyak dijelaskan faktor-faktor yang memudahkan dan menyempitkan rizki serta faktor-faktor yang dapat memperpanjang dan memperpendek umur. Kita sebagai pelajar haruslah tahu dan paham mengenai hal tersebut.
Kali ini saya tidak akan menyampaikan rincian-rincianya karena dirasa sangat luas dan panjang untuk dijabarkan, jadi pada bagian ini saya akan sedikit menjelaskan bagian-bagian yang masih saya rasa membingungkan bagi diri saya pribadi.
Salah satu yang masih membuat saya bingung yaitu mengenai hal-hal yang menjadikan fakir, seperti kencing telanjang. Bukan kah hal itu cukup bagus, dengan tujuan untuk menjaga dirinya dari terkenanya najis air kencing. Kemudian tentang membakar kulit bawang merah dan putih serta menyapu pada waktu malam, bukannya menjaga kebersihan juga sebagian dari iman, dan bagaimana ketika di waktu malam banyak sampah dan kotor, apakah kita tidak perlu menyapunya dan menunggu waktu pagi agar dapat membersihkannya?. Mungki saya sadari ilmu pengetahuan saya lah yang masih dangkal untuk menerima itu semua, jadi saya di sini hanya mengakui keterbatasan saya yang belum bisa maksud dan tujuan hal-hal di atas.
Mengenai hal lain mengenai materi ini saya setuju dan terteguh dan insya Allah akan menjadi referensi yang baik bagi semua orang dan khususnya bagi saya pribadi.

BAB XIV
REFLEKSI


Pada bagian ini saya akan mencoba memaparkan keluh kesah, kritik saran, serta pesan kesan yang didapat selama saya mengikuti dan belajar mengenai “FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM”.
Banyak hal yang didapat dan yang pasti dapat membantu dan bersifat positif, seperti saya sekarang jadi lebih tau dan mengenal tentang berbagai macam metode dan pendekatan yang dapat diguakan dan diterapkan untuk mengajar, dan itu semua saya rasa akan lebih membantu dalam pendekatan terhadap para siswa, menilik heterogenesis siswa dan lingkungan yang semakin beranekaragam sehingga kita bisa memilih metode yang tepat untuk pengajaran agar lebih efektif dan efisien.
Selain itu, saya lebih tau dan mengenal betapa hebat dan mengagumkannya para ilmuan dan cedekian muslim yang membuat berbagi terobosan dan pemikiran-pemikiran yang luar biasa, seperti Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Setelah tau mengenai hal tersebut saya menjadi paham dan yakin bahwa generasi muslim pun dapat berkompetisi dan bersaing untuk jadi yang terbaik.

Secara keseluruhan saya merasa terbantu dan senang dapat ikut dalam mata pelajaran ini.

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN : PENELITIAN EKSPERIMENTAL