tugas filsafat pendidikan : refleksi kitab "ta'limul muta;alim"
BAB
I
KEUTAMAAN
ILMU DAN FIKIH
Pada
dasarnya Islam memang salah satu agama yang mengharuskan umatnya untuk menuntut
ilmu tidak hanya bagi laki-laki melainkan diwajibkan pula bagi para muslimah,
hal ini merupakan kewajiban yang mutlak karena sebagai salah satu identitas
yang membedakan antara manusia dan binatang. Ilmu merupakan komponen penting
dalam pembangunan iman seseorang, karena dengan jalan itulah manusia akan bisa
menemukan kebenaran dari agamanya,
Mengenai
hubungannya dengan ilmu fikih, sudah barang tentu itu menjadi suatu hal yang
tidak bisa digantikan lagi posisinya, bagaimana tidak, Fikih merupakan salah
satu pondasi yang dibutuhkan manusia sebagai salah satu kompas dalam mengarungi
kehidupan. Kita haruslah mengetahui perkara halal dan haram, perkara boleh dan
tidak boleh, serta perkara-perkara yang berhubungan dengan unsure ibadah kita
dengan Sang Maha Khaliq. Maka karena itu haruslah manusia mengetahui dan
mempelajari ilmu fikih.
Ada
beberapa perkara yang belum bisa saya cerna dalam kajian bab satu ini, seperti
beberapa pendapat Ulama yang disajikan oleh penulis diantaranya pendapat dari
Imam Syafi’i bahwasanya “Imu itu hanya ada 2: 1.Ilmu fikih, yaitu untuk
mengetahui seluk beluk masalah agama, 2. Ilmu kedokteran, yaitu untuk
mengetahui keadaan sehat dan sakit tubuh”. Adapun ilmu-ilmu lain yang selainnya
hanya bersifat sebagai pelengkap bekal hidup. Hal ini masih sedikit mengganjal
dipikiran saya selaku pembaca yang masih awam, mengenai ilmu fikih saya masih
bisa paham dan mengerti tentang kedudukan dan porsinya, tetapi untuk hal ilmu
kedokteran masih belum begitu paham terlebih lagi pengarang tidak menjelaskan
secara rinci mengenai hal tersebut, saya selaku orang awam merasa bingung dan
tidak tahu.
BAB II
NIAT KETIKA AKAN BELAJAR
Dalam
bab ke-2 ini saya hampir setuju dengan perkara-perkara yang dijabarkan oleh
penulis, seperti keutamaan niat dan kebenaran niat yang harus diusung oleh
setiap pelajar ketika menuntut ilmu, kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu,
karena ilmu itu tidak didapat begitu saja melainkan butuh perjuangan yang luar biasa untuk
mendapatkannya.
Seperti
bab sebelumnya ada beberapa perkara yang masih belum bisa saya pahami, terutama
mengenai tawaduk dan iffah, pengarang mengatakan bahwa keduanya hampir sama
pengetiannya, yaitu perilaku yang tengah tengah antara sombong dan rendah diri”
. kemudian apakah perbedaan keduanya.
Kemudian
ada satu pertanyaan lagi muncul mengenai pendapat ulama yang disajikan oleh
pengarang pada hal ini pendapat Imam Abu Hanifah “Imam Abu Hanifah Rahimahullah
berkata kepada teman-temannya: “Jika engkau memakai sorban, buatlah yang besar
(longgar).” Maksud dari orang-orang itu jangan sampai keliatan remeh, apalagi
sampai diremehkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan dibenak saya meliputi maksud
diremehkan disini apa? Dan apa yang harus kita lakukan supaya tidak diremehkan?
Kemudian
ungkapan pengarang bahwa “Barang siapa mendapatkan kitab wasiat karangan Imam
Abu Hanifah yang ditulis untuk Yusuf bin Khalid As-Simty, akan berhasil” apakah
pengertian berhasil disini? Dan kenapa demikian?
BAB III
MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN
Memilih
yang terbaik bagi diri kita merupakan hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW,
termasuk dalam memilih ilmu, guru, dan teman. Semuanya itu ikut andil dalam
pembentukan jati diri kita.
Ilmu
merupakan harta yang tak ternilai harganya, bahkan jika dibandingkan dengan
harta dan kedudukan, keutamaan ilmu jauh melampaui semuanya, kendati demikian
kita harus selektif dalam memilih ilmu. Seperti yang dikemukakan pengarang
kitab bahwa kita harus mengutamakan ilmu-ilmu kuno(yang sudah ada di zaman
dahulu atau masa Rasul) seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Saya pun merasa
setuju dangan hal tersebut tetapi di zaman sekarang ini,
pengetahuan-pengetahuan baru pun perlu kita ketahui menilik perkembangan zaman
yang tumbuh begitu cepat. Kendati demikian kita mempunyai tugas yang teramat
sangat berat dalam menyeimbangkan kadar pengetahuan agama dan umum. Karena
begitu banyaknya manusia terkungkung dalam pengetahuan umum sehingga akhlak
mereka seolah tidak berdaya menahan laju perkembangan zan, pun demikian
sebagian lagi lebih focus dalam kajian agama sehingga mereka bisa saja
dipermainkan oleh zaman yang semakin kacau.
Memilih
guru mungkin sangat penting bagi kita, bagaimanapun juga guru kita lah yang
akan menjadi pembentuk karakter diri kita, tetapi ungkapan untuk tidak
berganti-ganti guru kiranya sulit untuk diterapkan di masa kina, pasalnya,
begitu banyak lembaga pendidikan yang lebih mengutamakan target kuantitas bukan
target kualitas, alhasil tidak peduli mahir atau tidak, asalkan waktu atau masa
sudah terpenuhi, semua pelajar dianggap bisa tentang subjek tersebut.
Memilih
dalam berteman tidak bisa dipandang sebelah mata, hal itu penting karena begitu
dekatnya mereka dengan kita. Dalam hal ini saya setuju dengan pengarang. Kita
boleh berteman dengan siapa saja asalkan kita harus selektif dalam
berdekat-dekat dengan mereka.
BAB IV
MEMULIAKAN ILMU BESERTA AHLINYA
Pada
bab ini dibahas materi yang sangat menarik bagi saya pribadi. Dijelaskan bahwa
kita harus memuliakan guru-guru kita dan mengharap ridhonya, agar ilmu yang
kita peroleh senantiasa berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Banyak manfaat
yang kita peroleh ketika kita menghormati guru-guru kita, tidak bisa
dipungkiri, bagaimanapun juga seorang guru adalah sosok yang sangat berjasa
bagi kesuksesan dan kehidupan kita, tak ayal mereka diberi sebutan orang tua ke
dua bagi kita, agar kita senantiasa menghormati mereka selayaknya kita
menghormati kedua orang tua kita.
Memuliakan
guru juga bisa kita lakukan dengan memuliakan ahli mereka ( keluarga dan
keturunan), hal ini memang selayaknya dilakukan, tetapi pengarang disini saya
pikir secara pribadi, terlalu berlebihan menggambarkan penghormatan terhadap
anak seorang alim ulama, saya pikir sebagai korelasi dengan situasi zaman
sekarang alangkah lebih baik jika penghormatan tersebut dapat diwujudkan dengan
memuliakan mereka saja (bersikap baik).
Beralih
kepada memuliakan ilmu, memang perlu memuliakan ilmu bagi para pelajar, untuk
hal ini saya setuju seratus persen dengan pendapat pengarang dan contoh-contoh
dalam memuliakan ilmu, seperti dalam peletakan, penulisan dan tata caranya.
BAB
V
KESUNGGUHAN,
KETETAPAN DAN CITA-CITA YANG TINGGI
Subhanallah,
sungguh luar biasa kndungan di bab ini, seakan-akan ini adalah sebuah kritik
yang ditunjukan kepada saya. Setelah saya membacanya, tidak henti-hentinya saya
merenung, begitu banyaknya waktu yang terbuang. Memang untuk mencapai tujuan
dan cita-cita yang luhur, kita harus mengejarnya dengan sengguh-sungguh. Dan
orang yang sungguh-sungguh itu selalu dekat dengan Allah SWT, karena mereka
menggunakan waktu dengan efisien dan sebaik mungkin. Dan dari hal itu, ternyata
betapa mulianya umat islam, mereka telah berhasil dan diarahkan untuk bisa
bersungguh-sungguh dan menggunakan waktu, dan di masa modern ini orang-orang
barat baru menemukan teori tentang “time management” untuk menuju kesuksesan,
betapa indah Islam ini.
Ketetapan
dan cita-cita yang luhur juga menjadi salah satu pendorong penting agar kita
menjadi sukses, bagaimanapun juga jika kita punya cita-cita yang tinggi akan
selalu memotifasi kita agar terus maju dan bekerja keras, dan ini memang benar
adanya.
Mengenai
tujuan dan ketetapan hati, seperti halnya pesan yang terkandung dalam kitab
ini, kita harus punya tujuan yang sangat tinggi dan mulia, dan mendapatkan
dunia bukan lah hal yang luar biasa, menilik dunia bisa habis dan rusak.
Walaupun di masa sekarang ini banyak manusia berpandangan sebaliknya. Tapi
sungguh tujuan menuntut ilmu dengan niat yang lurus merupakan asset yang luar
biasa bagi manusia. Kemuliaannya akan terus terjaga bahkan tak terlepas roh
yang meninggalkan jasadnya.
BAB
VI
PERMULAAN,
UKURAN DAN TERTIB DALAM BELAJAR
Seperti
bab-bab sebelumnya, saya juga setuju dengan kandungan dari bab ini, tetapi ada
beberapa hal di masa kini yang menyimpang dengan hal-hal tersebut seperti, di
dalam kitab dijelaskan bahwa kita harus fokus dan mahir pada satu bidang
terlebih dahulu dan kemudian jika sudah barulah memulai dengan bidang yang
lain, tapi di masa sekarang cenderung sebaliknya, tidak peduli mahir atau tidak
ketika kurikulum mengharuskan pindah maka mau tidak mau kita harus berganti
bidang, hal ini saya pandang secara pribadi sangat mengganggu, Karena pelajar
pada akhirnya merasa tidak mempunyai bidang yang benar-benar mereka kuasai.
Dan
ketidaksingkronan selanjutnya adalah mengenai metode diskusi sebagai salah satu
metode belajar yang baik, mungkin dengan garis bawah harus dengan niat untuk
menyelesaikan suatu masalah. Memang, tidak dipungkiri, diskusi merupakan salah
satu metode yang efektif, tidak hanya di zaman dahulu bahkan di zaman sekarang
pun masih sangat digandrungi, tetapi berbeda dengan masa lampau, di era modern
diskusi seakan kehilangan esensinya, tidak seperti di zaman dahulu di masa
sekarang diskusi atau debat lebih menekankan tujuan untuk menjatuhkan orang
lain, mencari pembenaran, dan sebagai alat untuk mendongkrak popularitas. Tidak
sedikit dari mereka yang berdiskusi hanya sekedar mengemukakan
pendapat-pendapat yang dirasa tidak relevan (tidak nyambung) hanya karena ingin
dirinya ikut andil dalam pemberian keputusan, disisi yang lain banyak
diataranya menggunakan kata-kata yang tidak selayaknya dengan maksud untuk
menjatuhkan lawan diskusinya, mungkin inilah yang dimaksud dari hadits nabi
bahwa berbantah-bantahan akan mengeraskan hati.
Untuk
yang lainnya, saya sangat setuju dan sependapat dengan pengarang, seperti
bertahap dalam belajar, tertib dan teratur serta harus senantiasa
bersungguh-sungguh dan tidak boleh kendor sedikitpun.
BAB
VII
TAWAKAL
Pada
bagian ini pengarang mencoba memaparkan tentang sikap yang harus dimiliki oleh
setiap pelajar, yaitu tawakal. Jadi bagi setiap pelajar haruslah tertanam pada
diri mereka sikap tawakal, sikap dimana membuat diri mereka lebih bersabar dan
yakin dalam menuntut ilmu. Karena tidaklah mudah dalam menuntut ilmu, jalan
untuk menempuhnya juga teramat sangat berat. Maka oleh karena itu setip pelajar
haruslah mempunyai sikap tawakal.
Setiap
orang yang sudah memiliki sikap tawakal tersebut akan merasakan betapa lezatnya
memperoleh ilmu, karena kita tau keutamaan ilmu ituh jauh diatas
keutamaan-keutamaan harta dan tahta.
Disamping
itu seorang pelajar haruslah teguh dalam menuntut ilmu, tidaklah harus seorang
pelajar memikirkan masalah rizki, karena riaki mereka terjamin oleh Allah SWT.
Secara
keseluruhin isi dalam bab ini sangatlah penting sebagai komponen pembentuk
generasi-generasi muslim yang handal. Karena bagaimanapun juga, banyak
pergeseran nilai yang terjadi di masa sekarang ini. Seperti lumrahnya para
pelajar lebih fokus dan tertarik kepada dunia bebas yang berbau materi
disbanding memfokuskan diri pada dunia pendidikan mereka.
Maka
dari itu saya mempunyai pendapat pribadi bahwa kita memang harus dan penting
untuk memiliki sikap tawakal, terlebih lagi bagi seorang pelajar.
BAB
VIII
WAKTU
MENGHASILKAN ILMU
Diterangkan
disini waktu yang utama dalam menghasilkan ilmu, diantaranya pada usia muda.
Usia muda merupakan salah satu usia produktif untuk menuntut ilmu, bahkan
pepatahpun mengatakan “belajar di waktukecil bagai mengukir diatas batu,
belajar di waktu tua bagai mengukir diatas air”. Jadi di sini ditekankan untuk
menggunakan masa muda kita dengan sebaik mungkin, salah satunya dengan
memperbanyak menuntut ilmu, karena ilmu mutlak diperlukan bagi setiap manusia
agar bisa tetap berada di jalur yang benar dalam mengarungi kehidupan di dunia
ini. Orang-orang yang akan tersenyum di hari pembalasan kelak adalah
orang-orang yang bertaqwa, dan tidaklah diangkap orang bertaqwa melainkan
mereka yang berilmu, jadi jelas sekali pentingnya menuntut ilmu di usia muda
agar kita senantiasa semangat dalam menjalani hidup.
Kendati
telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penting bagi kita untuk menuntut ilmu di
usia muda, tapi hal itu bukanlah alasan untuk berhenti menuntut ilmu ketika
usia senja menghampiri. Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, baik
muskim laki-laki maupun perempuan dan dengan jangka waktu semenjak ia lahir ke
dunia hingga mereka berada di liang lahat.
Tidaklah
ada batasan dalam menuntut ilmu, semua orang dari kalangan manapun dan usia
berapapun berhak dan wajib dalam menuntut ilmu, menilik betapa pentingnya ilmu
bagi kita semua. Maka karena itu, selama ruh kita masih berada dalam jasad,
wajib hukumnya untuk tetap berjuang mengais kepingan kepingan ilmu, karena
bagaimanapun juga itu akan menjado catatan amal kita di akhirat kelak.
Secara
keseluruhan saya sangat setuju sekali dalam pemaparan di dalam bab ini. Tidak
diragukan lagi, kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat mutlak hukumnya.
BAB
IX
BELAS
KASIH DAN NASIHAT
Belas
kasih mutlak harus dimiliki oleh setiap muslim, termasuk para pelajar. Berbelas
kasih dn senantiasa berpikiran positif akan menuntun diri anda ke dalam
kehidupan yang tenang.
Saya
coba menukil salah satu kalimat yang ada di kitab ini yang bunyinya “ orang
yang berilmu hendaknya mempunyai sift belas kasih kalau sedang member nasihat.
Janagan sampai mempunyai maksud jahat dan iri hati. Karena sifat iri hati dan
dengki adalah sifat yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya”. Dari nukilan
kalimat tadi digambarkan bahwa orang berilmu harus mempunyai rasa belas kasih
dalam konteks ini tersirat pesan bahwa bagi setiap guru ketika hendak
menyampaikan sebuah materi kepada muridnya hendaklah dengan jalan dan cara yang
baik, yaitu dengan rasa belas kasih. Karena saya pribadi tidak merasa nyaman
ketika di berikan materi dengan cara yang buruk.
Jika
ditarik kesimpulan, korelasi kandungan yang terdapat pada bab ini terhadap
pendidikan zaman sekarang adalah setiap guru
tidak hanya memikirkan materi atau bahan ajar, melainkan harus
memperhatikan faktor psikologis anak didiknya, karena sedikit banyaknya itu akan
mempengaruhi perkembangan siswa-siswa mereka.
Dan
dibagian yang lain dalam bab ini dijelaskan bahwa jika kita di remehkan atau
dioloko-olok oleh orang lain, tidak perlulah kita membalas dengan yang serupa
tetapi cukuplah diam. Karena itulah yang membedakan antara orang yang berilmu
dan yang tidak. Cukuplah Allah yang akan membalas perlakuan mereka, karena
barang tentu hal yang demikian itu dilarang terlebih lagi ketika hal itu
ditunjukan bagi orang-orang yang berilmu.
BAB
X
MENCARI
FAEDAH
Salah
satu cirri keberhasilan seorang pelajar adalah ketika ia tekun untuk mencari
faedah. Salah satunya dengan senantiasa mencatat segala sesuatu yang dirasa
penting dan bermanfaat kedalam sebuah catatan. Dari hal itu sangatlah mirip
dengan metode yang sering kita dengr di masa sekarang, dimana kita senantiasa
diingatkan oleh guru kita untuk selalu mencatat hal yang penting-penting,
karena persis dengan salah satu kalimat dalam kitab ini bahwa “barang siapa
yang pernah hafal sesuatu, maka kadang-kadang bisa terjadi lupa. Akan tetapi,
jika faedah tersebut dicatat, tentu tetap tidak akan lupa”. Dengan penjelasan
tersebut sudahlah tentu mencari faedah juga penting bagi setiap pelajar dalam
rangka mengejar cita-citantya.
Kemudian
di bagian yang lain dalam bab ini diterangkan agar selalu mengunjungi guru-guru
dan sesepuh untuk mencari banyak ilmu dan faedah, jangan sampai kita punya
banyak waktu luang tapi tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi para guru,
hal itu akan sangat merugikan bagi diri kita, seperti yang pengarang sajikan
dalam bab ini tentang kisah salah seorang ulama: “Sebagaimana yang dikatakan
guru kami syekhul Islam dalam kitabnya: banyak sekali para sesepuh yang agung
ilmunya lagi mulia, sedangkan aku pada saat itu masih ada kesempatan untuk
bertemu, tetapi aku belum sempat mengaji dan belajar ilmu dari para sesepuh tersebut
sampai meninggal dunia, dan aku merasa sangat menyesal”.
Secara
keseluruhan pesan moral yang bisa kita dapat dalam bab ini, bahwa kita harus
dapat mencari faedah di semua tempat dan salah satu jalan mendapatkan faedah
yang baik adalah dengan mengunjungi para ustad dan sesepuh-sesepuh yang utama
ilmu pengetahuannya.
BAB
XI
WIRA’I
KETIKA MENCARI ILMU
Wira’i
adalah sikap untuk menjaga diri dari perkara haram. Jadi setiap pelajar harus
senantiasa wira’i dalam mencari ilmu, sehingga ilmunya bermanfaat dan tidak ada
kendala yang berarti dalam berjuang mendapatkannya. Di bab ini pun dijelaskan
beberapa hal tentang wira’i seperti tidak boleh kekenyangan, terlalu banyak
tidur, banyak bicara, memakan makanan pasar, ghibah, menghindari bergaul dengan
orang-orang yang salah perilakunya, dan diusahakan untuk menghadap kiblat
ketika belajar.
Dari
hal-hal yang dijelaskan di atas, saya selaku orang awam dan masih dangkal ilmu
pengetahuannya masih merasa bingung tentang beberapa hal dalam bab ini, seperti
tidak boleh memakan makanan pasar, walaupun
telah dijelaskan penjabarannya dalam bab ini, tapi saya masih merasa
bingung tentang hal tersebut, padahal kebanyakan pelajar yang merantau unuk
mencari ilmu baik di Banten maupun luar kota seperti Jakarta dan Jogja, banyak
kalangan pelajar yang lebih memilih jajanan pasr karena dirasa lebih murah,
apakah itu akan jadi kendala juga, menilik perkembangan zaman yang begitu cepat
sehingga hal yang mudah dan efisien lebih banyak menjadi pilihan. Lemudian
lagi, walaupun memang pasar memang kotor dan besar kemungkinan makanannya juga
terkena najis, tapi orang yang berjualan di pasar juga berikhtiar agar
makanannya tetap higenis, dan mereka juga mencari rizki halal.
Untuk
hal-hal yang lain saya setuju dan sependapat, bahwasanya benar
perlakuan-perlakuan yang telah disebutkan di atas sebaiknya para pelajar bisa
mempertimbangkan agar tidak melakukan hal yang sedemikian itu.
BAB
XII
SUATU
YANG DAPAT MENJADIKAN HAFAL DAN LUPA
Pada
bab ini dijelaskan beberapa hal yang bisa membantu pelajar untuk bisa menghafal
dan dijelaskan juga beberapa hal yang bisa membuat lupa. Hal ini dimaksudkan
untuk membantu pelajar agar dalam proses belajar menjadi lebih mudah.
Dibagian
awal diterangkan beberapa hal yang bisa membantu para pelajar untuk dapat
menghafal dengan mudah, seperti bersungguh-sungguh, rajin, tetap, mengurangi
makan, mengerjakan shalat malam, dan membaca Al-Qur;an.
Saya
sangat setuju dengan pendapat pengarang karena menurut saya segala sesuatu di
atas memang dapat meningkatkan daya ingat serta daya hafal pelajar. Tidak ada
yang diragukan lagi tentang hal-hal tersebut sehingga saya rasa ini pun patut
dicoba dan ditiru oleh semua generasi muslim di seluruh dunia.
Pada
bagian yang lain juga disebutkan sebuah topic yang berlawanan dengan topic
pertama, yaitu mengenai hal-hal yang menyebabkan cepat lupa, seperti: terlalu
memikirkan perkara dunia, makan ketumbar yang masih basah, makan buah apel yang
rasanya asam, melihat orang yang disalib, membaca tulisan di batu nisan,
berjalan di antara dua unta yang bergandengan dan membuang kutu rambut
hidup-hidup ke tanah.
Pada
bagian ini saya selaku orang awam masih merasa bingung tentang pemaparan
pengarang tentang hal-hal yang disebutkan di atas, dan pengarang pun tidak
memberikan gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang menyebab kan mudah lupa.
Jadi saya selaku orang awam merasa bingung dan tidak mengerti tentang bagian ini.
BAB
XIII
SESUATU
YANG MEMUDAHKAN DAN MENYEMPITKAN REZEKI; MEMPERPANJANG DAN MENGURANGI UMUR
Pada
bab terakhir ini banyak dijelaskan faktor-faktor yang memudahkan dan
menyempitkan rizki serta faktor-faktor yang dapat memperpanjang dan
memperpendek umur. Kita sebagai pelajar haruslah tahu dan paham mengenai hal
tersebut.
Kali
ini saya tidak akan menyampaikan rincian-rincianya karena dirasa sangat luas
dan panjang untuk dijabarkan, jadi pada bagian ini saya akan sedikit
menjelaskan bagian-bagian yang masih saya rasa membingungkan bagi diri saya
pribadi.
Salah
satu yang masih membuat saya bingung yaitu mengenai hal-hal yang menjadikan
fakir, seperti kencing telanjang. Bukan kah hal itu cukup bagus, dengan tujuan
untuk menjaga dirinya dari terkenanya najis air kencing. Kemudian tentang
membakar kulit bawang merah dan putih serta menyapu pada waktu malam, bukannya
menjaga kebersihan juga sebagian dari iman, dan bagaimana ketika di waktu malam
banyak sampah dan kotor, apakah kita tidak perlu menyapunya dan menunggu waktu
pagi agar dapat membersihkannya?. Mungki saya sadari ilmu pengetahuan saya lah
yang masih dangkal untuk menerima itu semua, jadi saya di sini hanya mengakui
keterbatasan saya yang belum bisa maksud dan tujuan hal-hal di atas.
Mengenai
hal lain mengenai materi ini saya setuju dan terteguh dan insya Allah akan
menjadi referensi yang baik bagi semua orang dan khususnya bagi saya pribadi.
BAB
XIV
REFLEKSI
Pada
bagian ini saya akan mencoba memaparkan keluh kesah, kritik saran, serta pesan
kesan yang didapat selama saya mengikuti dan belajar mengenai “FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM”.
Banyak
hal yang didapat dan yang pasti dapat membantu dan bersifat positif, seperti
saya sekarang jadi lebih tau dan mengenal tentang berbagai macam metode dan
pendekatan yang dapat diguakan dan diterapkan untuk mengajar, dan itu semua
saya rasa akan lebih membantu dalam pendekatan terhadap para siswa, menilik
heterogenesis siswa dan lingkungan yang semakin beranekaragam sehingga kita
bisa memilih metode yang tepat untuk pengajaran agar lebih efektif dan efisien.
Selain
itu, saya lebih tau dan mengenal betapa hebat dan mengagumkannya para ilmuan
dan cedekian muslim yang membuat berbagi terobosan dan pemikiran-pemikiran yang
luar biasa, seperti Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Setelah tau
mengenai hal tersebut saya menjadi paham dan yakin bahwa generasi muslim pun
dapat berkompetisi dan bersaing untuk jadi yang terbaik.
Secara
keseluruhan saya merasa terbantu dan senang dapat ikut dalam mata pelajaran
ini.
Comments
Post a Comment