MAKALAH SEMANTIK : LEXICAL STRUCTURE OR RELATION OF MEANING

SEMANTICS
LEXICAL STRUCTURE OR RELATION OF MEANING

Kelompok 5
Santi Anjar Pratiwi 112301046
Ulinuha                      112301055
Ani Fitriah                 112301062
PBI-A/VII
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Ada beberapa jenis hubungan leksikal, seperti yang akan kita lihat. Sebuah leksem tertentu mungkin secara bersamaan di sejumlah hubungan ini, sehingga mungkin lebih akurat untuk memikirkan hubungan sebagai jaringan, dari pada daftar kata-kata seperti dalam kamus diterbitkan.
Sebuah prinsip organisasi penting dalam leksikon adalah bidang leksikal. Ini merupakan grup dari leksem yang termasuk ke kegiatan tertentu atau bidang pengetahuan khusus, seperti istilah dalam memasak atau berlayar; atau kosa kata yang digunakan oleh dokter, penambang batu bara atau pendaki gunung. Salah satu efek adalah menempatkan.
Kamus mengakui pengaruh medan leksikal dengan memasukkan entri leksikal label seperti Perbankan, obat-obatan, memancing, dll Seperti dalam contoh kita di atas.
Salah satu efek medan leksikal adalah bahwa hubungan leksikal yang umum antara leksem di bidang yang sama. Berikut akan dijelaskan beberapa struktur leksikal atau hubungan makna









BAB II
LEXICAL STRUCTURE OR RELATION OF MEANING
1. Sinonim
Sinonim adalah kata-kata fonologis berbeda yang memiliki makna yang sama atau sangat mirip (Saeed 2000:65). Contoh: big 'besar' dan large 'besar'. couch ‘ kursi panjang’ dan sofa ‘ kursi panjang’.
Dua buah ujaran yang bersinonim, maknanya tidak akan persis sama, hal ini disebabkan oleh:
a.       Faktor waktu, misalnya : thou,,,, sekarang menjadi you.
b.      Faktor nuansa makna, seperti pada kata ‘ pay’ ( bayaran), ‘wages’ ( upah harian), salary ( gaji bulanan ), fee ( honor jasa).
2. Antonim
Dalam terminologi tradisional, antonim adalah kata-kata yang maknanya beroposisi (Saeed 2000:66). Lebih lanjut, Saeed menyebutkan lima jenis oposisi (66-68), yaitu:
a. Antonimi Sederhana: hubungan antara pasangan kata-kata yang jika salah satunya positif, maka yang lainnya negatif. Pasangan ini sering juga disebut pasangan komplementer atau pasangan binari. Contoh: dead 'mati' dengan alive 'hidup'.
b. Antonimi Bertingkat: hubungan antara opisisi yang jika salah satunya positif, yang lainnya tidak harus negatif. Contoh: hot 'panas' dengan cold 'dingin'.
c. Kebalikan ( reverses ): relasi yang menunjukkan gerakan arah yang berlawanan. Contoh: push 'dorong' dan pull 'tarik'.
d. Konversi ( converses ): Hubungan antara dua maujud dari sudut pandang yang berganti. Contoh: employee 'pekerja' dengan employer 'pemberi kerja'.
e. Taksonomi ( taxonomic sisters ): hubungan antara kata-kata dalam sistem klasifikasi. Contoh: red 'merah' dan blue 'biru'.
3. Homonim
Saeed (2000:63) menyebutkan bahwa homonimi adalah relasi antara kata fonologis (pengucapannya dan bentuknya) yang sama namun maknanya tidak berhubungan.
Contoh:
a.       pen 'alat tulis' dengan pen 'kandang'.
b.      Pacar ‘ kekasih’ dengan pacar ‘inai’
c.       Bisa ‘ racun ular’ dengan bisa ‘ sanggup’
Homonimi juga memiliki dua istilah yang terkait, homofoni dan homografi. Saeed hanya (2000:63) menyebut homofoni sebagai relasi kata yang pengucapannya sama. berdasarkan asal katanya ( homos 'sama' dan phone 'suara'), menunjukkan relasi kata yang pengucapannya sama tetapi tulisannya berbeda dan maknanya tidak berhubungan.
Contoh: ring 'membunyikan (bel)' dengan wring 'memeras (baju)'.
Sama halnya dengan homofoni, Saeed (2000: 63) hanya menyebut homografi sebagai relasi kata yang tulisannya sama. Sedangkan jika diliha sesuai dengan asal katanya (bahasa Yunani: homos- 'sama' dan graf 'tulisan'), homografi sebagai relasi kata yang tulisannya sama tetapi pengucapannya berbeda dan maknanya tidak berhubungan.
Contoh: minute [minit] 'menit' dengan minute [mainiut] 'sangat kecil'.
4. Polisemi
Menurut Saeed (2000:64) polisemi mirip dengan homonimi, tetapi dalam polisemi ada relasi makna yang erat antara kata yang bentuknya dan ucapannya sama. Definisi lain menyebutkan bahwa sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi  jika kata itu mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh: Alia Mengenakan Baju berwarna biru


5. Hiponim
Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Hiponim termasuk mencakup arti kata yang lebih umum, contohnya :
Ø  Anjing dan kucing adalah hiponim dari hewan
Ø  Saudara perempuan dan ibu adalah hiponim dari wanita
Istilah yang lebih umum dari hiponim adalah superordinat atau hipernim. Relasi hiponim bersifat searah, bukan dua arah, seperti dalam contoh berikut :
       Burung

           
Merpati            Elang        Perkutut     Merak
Dari diagram diatas, dapat dijelaskan bahwa merpati berhiponim dengan burung, maka burung bukan berhiponim dengan merpati, melainkan berhipernim. Dengan kata lain, kalau merpati adalah hiponim dari burung, maka burung adalah hipernim dari merpati. Ada juga juga yang menyebutkan burung adalah superordinat dari merpati dan tentu saja superordinat dari elang, perkutut dan merak. Sedangkan hubungan dari merpati, elang, perkutut, merak dan burung yang lainnya disebut kohiponim.
                                    Burung
                 Hiponim                 Hipernim
                                   

                                    Merpati



6. Homofon
Homofon adalah kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaanya sama ataukah berbeda. Contohnya dalam kata here yang berarti ‘disini’, dengan kata ‘hear’ yang berarti mendengar; dan juga antara ‘pale’ yang berarti batas dengan ‘pail’ yang berarti ember. Contoh diatas menunjukan homofon, yang berarti memiliki kesamaan bunyi (phone) namun memiliki perbedaan ejaan.
7. Homograf
Homograf adalah dua kata yang memiliki pelafalan yang berbeda namun ejaannya sama. Seperti kata ‘wind’ yang berarti angin, dan kata ‘wind’ yang berarti belok, lingkaran
8. Ambigu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Balai Pustaka .1998) Kita berhadapan dengan dua pengertian abmbiguitas yang berkaitan dengan ujaran. Pertama, sifat atau hal yang berarti dua;kemungkinan yang mempunyai dua pengertian.
Kedua, kemungkinan adanya makna lebih dari satu dalam sebuah kata, gabungan kata,atau kalimat. Jadi kalimat ambigu adalah Kalimat yang mempunyai tafsiran lebih dari satu atau bermakna ganda
Hal - hal yang menyebabkan suatu kalimat menjadi ambigu:
1)Pelepasan kata 
2) Keterangan mendahului 
3) Kontaminasi kerancuan 
4) Letak jeda 
5) Asal usul 
o   Secara fonetik kegandaan makna terjadi karena adanya persamaan bunyi pada sebagian suku katanya.
  Contohnya:
 'beruang' bisa bermakna orang yang mempunyai uang atau nama binatang
o   Secara leksikal kegandaan makna terjadi karena adanya dua kata yang memiliki bentuk yang sama.
 Contohnya :
 'genting' bisa bermakna gawat atau nama atap.
o   Secara gramatikal kegandaan makna terjadi karena kata itu bergabung dengan kata-kata lain dan umumnya berbentuk kalimat.
Contohnya :
1. Istri pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya.
2. Saya telah memiliki buku sejarah demokrasi yang baru.
3. Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Kalimat-kalimat di atas memiliki makna ambigu (ganda) sehingga dapat membingungkan orang yang membacanya. 
Pada kalimat 1, siapakah yang gemuk, pegawai atau isteri pegawai? Kalimat itu memang mengandung dua makna: 
·         pertama, yang gemuk adalah pegawai; atau 
·         kedua. yang gemuk adalah isteri pegawai
Pada kalimat 2, apanya yang baru, bukunya, sejarahnya, atau demokrasinya? Kalimat itu bisa bermakna ambigu: 
·         pertama, bukunya yang baru;
·         kedua, sejarahnya yang baru; dan
·         ketiga, demokrasinya yang baru.
Pada kalimat 3, juga terdapat makna ambigu: 
·         pertama. ada dua kali sumbangan yang diberikan oleh sekolah itu; atau
·         kedua. ada dua sekolah yang menyumbang.
Untuk menghindari ambiguitas makna, kalimat 1 dapat dirumuskan sbb.:
a.       Jika yang gemuk adalah isteri pegawai, maka dapat ditulis sbb.: Istri-pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya. Penggunaan tanda hubung (-) dapat memperjelas bahwa kedua kata itu (isteri dan pegawai) merupakan satu kesatuan, sehingga kalimat itu bermakna yang gemuk adalah istri pegawai. Atau dapat pula dirumuskan sbb.: Pegawai yang isterinya gemuk itu berasal dari Surabaya. 
b.      Jika yang gemuk adalah pegawainya, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang gemuk itu istrinya dari Surabaya.
Untuk kalimat 2:
a.       Jika yang baru adalah bukunya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku-sejarah-demokrasi yang baru, atau Saya telah memiliki buku baru tentang sejarah demokrasi.
b.      Jika yang baru adalah sejarahnya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku tentang sejarah-demokrasi yang baru.
c.       Jika yang baru adalah demokrasinya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku sejarah tentang demokrasi yang baru.
Untuk kalimat 3:
a.       Jika yang dimaksud ada dua kali sumbangan, ditulis sbb.: Sumbangan yang kedua sekolah itu telah kami terima.
b.      Jika yang maksud ada dua sekolah yang menyumbang, ditulis sbb.: Sumbangan kedua-sekolah itu telah kami terima.

9. Redudansi
Istilah redudansi sering diartikan sebagai ‘berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam satu bentuk ujaran’(abdul Chaer).  Secara semantik masalah redudansi sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah bila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda. Misalnya bila kalimat Saya diundang teman. diperpanjang menjadi Saya diundang oleh teman. Perbedaan diantaranya hanya konstituen oleh. Banyak linguis mengatakan bahwa konstituen oleh itu dalam kalimat kedua tadi adalah ‘redudan’, yaitu tidak diperlukan untuk mendapatkan makna penuh.
Namun pendapat tersebut mengacaukan makna dan informasi. Informasi kedua kalimat tadi memang sama, entah ada konstituen oleh atau tidak. Tetapi maknanya tidak sama. Memang sulit menentukan persis perbedaan makna mana yang terdapat. Misalnya kita dapat mengatakan bahwa penambahan konstituen oleh lebih menonjolkan sifat agentif dari sisa kalimat sesudah diundang. Kiranya ada kemungkinan lain untuk merumuskannya. Tetapi yang penting disini ialah prinsip yang sudah dirumuskan, yaitu informasi tidak boleh disamakan dengan makna. Yang pertama terdapat sebagai fenomena luar ujaran, yang kedua adalah sebagai fenomena dalam ujaran. Dan bila bentuk berbeda, maknanya harus dianggap berbeda pula.
            Redundansi adalah penggunaan unsur-unsur segmental secara berlebihan dalam suatu ujaran. Ukuran untuk menyatakan suatu kata itu redundans atau tidak adalah berubahkah informasi yang terkandung dalam suatu ujaran apabila kata tersebut dihilangkan. Bila informasi tersebut tidak berubah, maka kata tersebut adalah redundans.Sebagai contoh, dalam kalimat “Pak Petrus mengenakan kemeja berwarna putih agar supaya terlihat bersih”. Penggunaan kata “berwarna” dan kata “supaya” adalah berlebih-lebihan atau redundansi, karena tanpa kedua kata itu pun, informasi yang disampaikan kedua klausa itu sama.
Redundansi dipermasalahkan dalam ragam bahasa baku dan ragam bahasa pers, karena kedua ragam bahasa tersebut menuntut efisiensi kalimat. Redundansi ini dapat kita temukan dalam ragam bahasa sehari-hari. Misalnya, dalam kalimat “Suer, gue lihat sendiri, duit si Amin beneran banyak banget deh”. Penggunaan salah satu dari kata kata “beneran” atau kata “banget” itu redundansi. Walau begitu, hal itu tetap digunakan oleh subyek pembicara karena dia hendak menekankan nuansa makna jumlah uang yang sangat banyak.
            Contoh lain adalah: “Jagalah kebersihan lingkungan, agar supaya kita terbebas dari berbagai macam penyakit.” Penggunaan kata agar dan supaya sangatlah tidak afektif. Oleh karena itu kata agar dan supaya dapat dikatakan sebagai redundansi. Penggunaan kata agar dan supaya dapat dipilih salah satunya agar kontruksi kalimat tersebut mejadi kalimat yang lebih efektif. Seperti: “Jagalah kebersihan lingkungan, agar kita terbebas dari berbagai macam penyakit.” Dan dalam kontruksi kalimat “Jagalah kebersihan lingkungan supaya kita terbebas dari berbagai macam penyakit.”

           




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada makalah ini kelompok makalah membahas tentang hubungan lexical atau hubungan dari makna kata, dalam kategori ini terdapat hal hal yang sangat penting yaitu, sinonim, Sinonim adalah kata-kata fonologis berbeda yang memiliki makna yang sama atau sangat mirip; antonim, antonim adalah kata-kata yang maknanya beroposisi; homonim, homonimi adalah relasi antara kata fonologis (pengucapannya dan bentuknya) yang sama namun maknanya tidak berhubungan; polisemi, sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi  jika kata itu mempunyai makna lebih dari satu; hiponim, Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Hiponim termasuk mencakup arti kata yang lebih umum; homofoni, Homofoni adalah kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaanya sama ataukah berbeda; homograf, Homograf adalah dua kata yang memiliki pelafalan yang berbeda namun ejaannya sama; ambigu, adalah sifat atau hal yang berarti dua;kemungkinan yang mempunyai dua pengertian; redundensi, diartikan sebagai ‘berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam satu bentuk ujaran.


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN : PENELITIAN EKSPERIMENTAL